Rabu, 30 Maret 2011

Smile and Energy to Tohoku

TRASHI kembali melakukan event menarik. Menyusul bencana Tsunami da Krisis Nuklir di Jepang, TRASHI dan seorang volunteer di Jepang, Hoko Horii, sedang menggalang donasi kemanusiaan melalui kampanye unik dan menarik.

Kampanye kemanusiaan ini disebut sebagai Smile and Energy to Tohoku. TRASHI mengajak warga Jakarta, pengunjung Museum Fatahilah dan siapapun yang tergerak untuk melakukan Donasi Semangat dan Energi Positif bagi para korban di Tohoku.

Bagaimana cara berdonasi? Tidak perlu bingung. Teman-teman yang akan membantu program donasi kami, silahkan datang ke Lapangan Museum Fatahilah, berpose unik dan menarik, dan sampaikan semangat serta pesan positif Anda melalui puisi, lagu atau gerakan apapun yang menurut teman-teman lucu dan menarik. TRASHI akan dokumentasikan dalam bentuk video dan foto. 

Hasil rekaman dan foto yang sudah dikumpulkan akan kita kirim ke teman kita, Hoko Horii untuk kemudian dikirimkan ke Tohoku. Tidak susah bukan? Nah bagi teman-teman yang tidak bisa datang ke TKP, silahkan kirimkan foto, pesan dan video Anda ke email trashi.info@gmail.com atau bisa juga di tag di Facebook TRASHI: Transformasi Hijau.

Sampai jumpa di TKP tanggal 2 April 2011 dan mari berbagi Semangat dan Energi untuk saudara kita di Tohoku. Salam kemanusiaan!!

NB: Informasi lebih lanjut, hubungi Putri: 0856 4817 7747

Selasa, 29 Maret 2011

Selamatkan Air, Bersihkan Hutan Mangrove

Sabtu, 26 Maret 2011. Peringatan Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret setiap tahunnya, diperingati oleh Transformasi Hijau (TRASHI) dengan menggelar Aksi Mulung Sampah Hutan Mangrove (TRASH BUSTER). Kegiatan yang diinspirasi oleh tema peringatan Hari Air 2011, yaitu “Water for Cities”,  mengajak setiap orang untuk kembali peduli pada keberadaan sumber air dan kawasan pendukungnya di kawasan perkotaan. Salah satu kawasan yang menjadi sasaran Trash Buster adalah ekosistem hutan mangrove di Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Berangkat dari ide tersebut, TRASHI mengundang berbagai kalangan untuk berbuat sesuatu bagi kelestarian hutan mangrove. Aksi Trash Buster yang dilaksanakan Sabtu lalu cukup menantang berbagai kalangan untuk hadir dan terlibat dalam aksi sukarela ini.

Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Jakarta saja, tapi peserta yang tinggal di Tangerang, Depok dan Bogor juga ikut terlibat dalam kegiatan ini. Trash Buster dihadiri oleh 140 orang peserta yang berasal dari beragam latar belakang, antara lain:

  1. SMA N 32 Jakarta Selatan
  2. SMA N 50
  3. SMK N 56 Jakarta Utara
  4. SMK N 24
  5. SMK Mitra Buana
  6. SMK Mutiara Bangsa
  7. SD N Jati Pulo 08 Pagi
  8. Green Community Universitas Indonesia
  9. Teen Go Green
 10. Yayasan KEHATI
 11. BEM FMIPA Universitas Indonesia
 12. Join Society for Nature
 13. Save the Children
 14. Jakarta Birdwatcher Society
 15. Jakarta Green Monster
 16. Jerami
 17. KSP Macaca Universitas Negeri Jakarta
 18. Klub Otomotif Jakarta
 19. Karang Taruna Kelurahan Kapuk Muara Jakarta Utara

Dalam waktu sekitar 4 jam, peserta berhasil mengangkat 1.242 Kg sampah non organik dan eceng gondok. Sampah non organik seperti styrofoam, plastik berbagai bentuk merupakan salah satu ancaman non alamiah bagi pertumbuhan tanaman mangrove. Sampah ini masuk ke dalam hutan mangrove melalui sungai Angke. Berat sampah non organik yang berhasil dikumpulkan sebesar 446 Kg.

“Saya tidak menyangka ada kawasan yang hijau seperti ini di Jakarta. Undangan Trash Buster untuk melakukan aksi di tempat ini membuat saya tahu bahwa sampah merupakan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan” ujar Didik Tohir peserta Trash Buster. “Melihat kondisi ini, saya mau mengundang teman-teman dari klub otomotif untuk berbuat sesuatu di kawasan ini sebagai aksi kepedulian lingkungan kami” tambah Didik di tengah-tengah aksi mulung sampah.

Di samping sampah plastik, enceng gondok sebagai tanaman air juga mengancam kelestarian hutan mangrove. “Komunitas enceng gondok saat ini sudah menutup perairan terbuka tempat burung air berburu. Jika kondisi ini dibiarkan akan mengancam kelestarian burung air yang hidupnya tergantung pada keberadaan ikan di kawasan ini. Oleh karena itu, saat ini saya dan teman-teman TGG beraksi untuk mengangkat enceng gondok ini dari SMMA” jelas Mahesa salah seorang penggiat Teens Go Green.

“Enceng gondok yang sudah dikumpulkan ini akan kami bawa ke RT 8 RW 4 Kapuk Muara untuk diolah menjadi briket. Kualitasnya enceng gondok sebagai briket cukup baik. Ini bisa menjadi bahan bakar alternatif warga Kapuk Muara” tambah Riki, Ketua Karang Taruna Kapuk Muara untuk diolah menjadi briket. Sedangkan, sampah plastik yang dikumpulkan karena sudah bercampur lumpur dan tidak dapat diolah, selanjutnya diangkut oleh Sudin Kebersihan dan kemudian dibawa ke TPA Bantar Gebang.

Trash Buster dapat terlaksana dengan adanya dukungan dari Danareksa, GEF SGP, Coca Cola, Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta, Kelurahan Kapuk Muara dan Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara. Melalui kegiatan peringatan Hari Air ini, TRASHI ingin menyampaikan pesan bahwa kepedulian warga Jakarta dan sekitarnya sangat dibutuhkan untuk menjamin kelestarian sumberdaya air yang makin menipis di perkotaan. Pengurangan produksi sampah adalah hal gaya hidup yang harus dilakukan oleh setiap orang untuk mengatasi masalah lingkungan ini.

Trash Buster 2011

Lima orang keluarga lingkungan BEM FMIPA UI berangkat menuju suaka margasatwa terkecil di Indonesia, Muara Angke. Kami berlima berangkat pada hari Jumat, 25 Maret 2011 pukul 19.30 dari Depok. Berangkat menggunakan KRL ekonomi, minibus, angkot dan berhasil sampai di tempat tanpa nyasar pukul 22.00. Sesampainya di sana, menunggu teman-teman panitia lain yang belum datang, kami berjalan-jalan di atas jembatan kayu menyusuri hutan mangrove. Sorot lampu membuat langit berwarna orange. Lampu-lampu rumah di pantai indah kapuk juga terlihat. Di ujung jembatan kami berlima duduk sambil bercengkrama hingga tengah malam. Di kelilingi pohon mangrove, beradai di atas air, ditemani hewan-hewan tak terlihat, suara jangkrik, monyet, dan deru angin. Esok kami membutuhkan banyak tenaga untuk membersihkan sampah-sampah di rawa, saatnya tidur di dalam wisma ramai-ramai.

Sabtu pagi yang indah dengan udara segar. Hutan yang gelap kini tampak terang, rimbun dan hijau. Sebelum acara Trash Buster dimulai pada pukul 08.00 panitia melakukan briefing dan survey lokasi. Memastikan jalan jembatan masih bisa dilalui. Kondisinya memang tidak seperti dua tahun lalu ketika aku kesana. Kayu-kayu melapuk dan bolong di beberapa bagian. Bang Suhud sebagai leader membagi tugas kepada kami menjadi PJ (Penanggung Jawab) di 5 titik yang sudah dibagi. Tugas kami adalah mengkoordinasikan dan mengarahkan teman-teman yang nanti akan membersihkan sampah.

Acara dimulai dan kami sudah berada di titik masing-masing. Sarung tangan plastik, serokan, jaring sampah, karung sampah, gerobak sudah didistribusikan di masing-masing titik. Anak-anak SMA yang sudah datang sejak pagi bersiap terjun ke rawa yang penuh dengan sampah. Dengan kaos acara World Water Day 2011 warna biru yang dibagikan oleh panitia menambah kekompakan semua orang yang datang. Satu, dua, tiga semua bekerja. Tidak hanya anak-anak SMA, ibu-ibu, bapak-bapak, mahasiswa, guru, anak SMP, dari berbagai kalangan yang peduli akan lingkungan hadir di acara ini.

Sampah memang menjadi masalah yang memprihatinkan disini. Akar-akar mangrove yang digunakan untuk bernapas terlilit oleh sampah plastik. Lama-lama pohon mangrove mati jika plastic-plastik itu tidak diangkat. Air tercemar, banyak enceng gondok yang tumbuh, terjadilah pendangkalan. Kami memisahkan sampah-sampah plastik dan organik. Dua jam berjibaku mengangkat sampah ke permukaan, memasukkannya ke dalam karung kemudian menimbangnya untuk dicatatat dan dimasukkan dalam truk pengangkut sampah yang sudah menunggu di depan.

Jangan sampai ekosistem mangrove harus mati karena kelalaian manusia menjaga lingkungannya. Negara kita ini indah, memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun warganya sendiri jugalah yang merusaknya. Sungguh ironi. Acara ini tepat selesai pukul 12 siang. Kami membersihkan lumpur dengan air bersih dari PAM. Acara ditutup dengan pembacaan hasil sampah yang kami kumpulkan, yaitu 1000 kg (1 ton). Rasa lelah yang kami rasakan terbayar dengan pengalama luar biasa sehari semalam bersama teman-teman pecinta lingkungan. :)