Selasa, 21 Mei 2013

Integrasi Otak Kiri dan Kanan di Future Leader Summit 2013

Puluhan anak muda Indonesia, dari berbagai kampus, berbagi cerita, pengalaman dan mimpi di Future Leader Summit (FLS) 2013. Acara yang digagas oleh Organisasi Kepemudaan Pemimpin Nusantara ini berlangsung meriah.  FLS berlangsung dari tanggal 18 - 19 Mei 2013 di Semarang.

FLS sebagai wadah berbagi dan berjejaring anak muda Indonesia ini sangat menarik. Berbagai isu yang tumbuh di masyarakat seperti lingkungan, pendidikan, kesehatan, hal asasi manusia, pengembangan bisnis serta seni budaya dibahas dan dikupas bersama para praktisi di bidangnya. 

Dalam kegiatan ini Hendra Aquan, Direktur TRASHI mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman ber komunitas di sesi Room Environment. Sesi yang berlangsung selama 90 menit ini mengajak para mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif menggunakan mind map.

Tahukah Anda, otak manusia merupakan bagian tubuh manusia yang paling berharga. Berbagai pengetahuan manusia bisa tercipta melalui pemberdayaan maksimal fungsi otak. Namun pada kehidupan nyata, fungsi otak tersebut belum dimanfaatkan secara penuh. Mind map adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengelola dan menampilkan ide dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami orang lain.

Pada sesi ini, Hendra mengajak peserta untuk menggunakan fungsi otak kiri dan kanan dengan bermain, mendengarkan musik dan menggambar simbol sederhana. Cara praktis tersebut dipakai untuk memicu kerjasama antara otak kiri yang berpikir logis dan tertata dengan otak kanan yang berpikir secara khayalan dan mencipta. Selain itu, peserta juga diajak mengumpulkan ide sebanyak mungkin dengan bermain imajinasi tentang pemanfaatan plastik kresek, sapu lidi dan serbuk kayu. 

Tahap selanjutnya, peserta diajak membuat mind map rencana kegiatan pasca FLS 2013. Dalam waktu 20 menit, 5 kelompok kerja di room environment ternyata mampu memaksimalkan potensi otak kiri dan kanan mereka. Terbukti dalam waktu singkat, berbagai gagasan dan rencana kegiatan dengan mudah mengalir dalam bentuk gambar berwarna yang menarik.

Ide para peserta ini cukup beragam, mulai dari pemanfaatan ilmu teknis untuk pengelolaan limbah kota, pendampingan para kelompok petani dalam pemanfaatan pestisida organik hingga pengembangan desa agrowisata. Proses belajar yang berlangsung singkat ini harapannya bisa menjadi pemacu semangat belajar mahasiswa untuk mengembangkan ide kegiatan dan berbagi ilmu melalui kegiatan praktis di masyarakat. (Hendra Aquan - Direktur TRASHI).







Rabu, 15 Mei 2013

Berlatih Dongeng Bareng JUKI and Friends : Cerita 2

Ilustrasi: Pemanduan Siswa SD Bellarminus di SMMA (Foto: Eci Desi)

Pelatihan dongeng bersama TRASHI dan RPA memasuki minggu kedua. Belajar dari pengalaman minggu sebelumya, kali ini saya berangkat lebih pagi dan langsung menuju ke  lokasi RPA. Ternyata saya tiba lebih awal bersama dua orang anak SMA yaitu Nurul dan Oppy. 

Pada pertemuan ini, kami lanjut ke materi berikutnya, yaitu persiapan mendongeng. Justru di sini lah sumber masalahnya. Saya belum membaca buku dongeng yang telah diberikan atau membuat dongeng yang menjadi tugas minggu lalu. Sebenarnya bukan karena saya malas. Soalnya tidak ada waktu untuk membuat, karena banyak tugas kerja yang menumpuk minggu lalu. Jadi tidak sempat membaca atau membuat dongeng. 

Alhasil saya dinasehati habis-habisan oleh Kak Salma. Sejurus kemudian saya disuruh mengulang perkenalan JUKI sampai beberapa kali  dengan suara saya yang "medhog" dan suara seperti membentak waktu mengucapkan "HAI! Teman-Teman!" Alasan lain yang membuat perkenalan itu sangat menantang, karena ada 2 anak bimbingan kak Salma bernama Baim dan Lala yang ikut hadir saat itu. Peristiwa itu seperti memaksa saya seperti mau membenturkan wajah ke tembok saking malunya.

Di balik cerita sedih itu, saya kagum dengan Baim dan Lala. Mereka mampu mendongeng dengan lihainya. Tidak hanya mendongeng, keahlian mereka berjualan juga patut diacungi jempol. Tentunya yang mereka jual adalah produk "JUKI and friends." 

Pada pertemuan minggu ketiga akan dilakukan di Pondok Gede. Percaya atau tidak, pada acara yang lumayan ramai nanti, ternyata disiapkan oleh Baim dan Lala, wah... hebat sekali talenta mereka. Rekan pelatihan saya yang lain, Nurul dan Oppy ternyata jago mendongeng semua. Dongeng yang disiapkan dan cara mendongeng mereka bagus-bagus semua. Tinggal giliran saya yang harus memperbaiki salam "HAI! Teman-Teman!" dan mengurangi logat "medhog."

Sekian cerita pengalaman saya di Pelatihan Mendongeng. Semoga terhibur. Teman-teman yang mau ikut acara mendongeng di Pondok Gede pada 26 Mei 2013, silahkan hubungi Kak Ucup di 083875480263.

Penulis: Reynaldi Prasetyohari, peserta pelatihan dongeng TRASHI dan RPA

Senin, 13 Mei 2013

Berlatih Dongeng Bareng JUKI and Friends : Cerita 1

Ilustrasi: Aksi Panggung Kak Dwi Dongeng Kanvas
saat melakukan Dongeng di Ciliwung
Perkenalkan, nama saya Reynaldi Prasetyohari. Nama panggung saya Aldi. Dalam tulisan ini saya akan bercerita pengalaman mendongeng. Pelatihan dongeng ini digagas oleh bersama TRASHI (Transformasi Hijau) dan RPA (Rumah Pohon Activity). Pelatihan yang sudah berjalan selama dua minggu ini menyimpan banyak sekali pengalaman baru. Mau tahu seperti apa? Simak tulisan saya berikut ini.

Minggu (5/5) pelatihan pertama dijadwalkan pada pukul 9. Mengingat saya tinggal di daerah Cempaka Baru, dan lokasi pelatihan berada di sekretariat Rumah Pohon Activity di daerah Jl. Tambak II Komplek Inkoppol, maka saya harus berangkat lebih awal agar terhindar dari macet. Jam menunjukkan pukul 6.30 ketika saya berangkat untuk bertemu dengan salah satu pengurus TRASHI, kak Yusuf atau biasa dipanggil kak Ucup.

Setibanya di tempat yang sudah disepakati, saya bertemu Kak Ucup dan Kak Ulfah, bersama dengan dua orang siswa SMA yang juga menjadi peserta pelatihan dongeng ini. Belakangan baru saya tahu, ternyata mereka juga ikut pelatihan dongeng juga. Setelah semua berkumpul, yang mayoritas adalah cewek, kecuali saya dan kak Ucup, kami kemudian mengarah menuju sekretariat RPA. 

Perjalanan menuju ke lokasi pelatihan dari shelter transjakarta Matraman 1 bisa dengan bemo, kemudian turun di Inkoppol. Melihat hari semakin siang, akhirnya kami putuskan berangkat dengan bajaj. Ini adalah kali pertama saya naik bajaj beramai-ramai. Bajaj sekecil itu bisa juga menampung kami semua. 

Setibanya di RPA, kami sudah dinanti oleh Kak Salma, dia yang menjadi pelatih kami. Pada sesi awal lalu, kami dijelaskan berbagai teknik mendongeng, mulai dari perkenalan, ilmu dongeng, sampai cara mengeluarkan intonasi nada khas pendongeng. Kak Salma orangnya ternyata menyenangkan. Dia tahu banyak mengenai sejarah hewan Indonesia. Dia juga ahli membuat aksesoris dan kerajinan tangan lainnya. Kemudian, dia juga membuat buku dongeng dan aksesoris yang bernama "JUKI and Friends" . Sekalian mengingatkan, jangan lupa membelinya ya :D.

Setelah ngobrol panjang lebar, kami diberi satu set boneka jari beserta buku dongeng. Di situ kita harus memahami benar cerita yang ada di buku dongeng tersebut. Langkah selanjutnya, kami secara bergantian memperkenalkan tokoh utama JUKI and friends, yaitu "JUKI si jerapah PERIANG !!!" (mengambil cuplikan perkenalan tokoh JUKI :P). 

Saat itu saya masih gugup, karena harus berekspresi riang seperti JUKI. Padahal sejak lahir, saya ini berwajah sayu (baca: ngantuk). Tiba-tiba saja hari itu harus berekspresi riang. Wah, ini X-factor sekali buat saya. Saat perkenalan, logat Jawa saya yang kental (baca: medhog), terdengar sangat jelas, sebening kristal. Berkali-kali saya diingatkan Kak Salma, tapi mau bagaimana lagi? Kalau sudah lama di Jawa ya inilah resikonya. 

Selain logat bicara saya yang dikritisi,cara perkenalan saya juga, kata Kak Salma seperti mau membentak orang. Padahal saya tidak bermaksud seperti itu.. hehehe. Menurut saya, semua peserta pelatihan dongeng yang semuanya cewek, hasilnya nampak bagus semua, kecuali saya. (Bersambung ke Berlatih Dongeng Bareng TRASHI dan JUKI and Friends : Cerita 2)

Penulis: Reynaldi Prasetyohari, peserta pelatihan dongeng TRASHI dan RPA