Jumat, 27 Januari 2012

Ruang Terbuka Hijau: mari bermain di luar


Kapan terakhir kali berkegiatan di luar ruangan?
Meraba butiran pasir yang lembut, berdiri menggigil di puncak gunung menatap matahari terbit, terciprat ombak di atas perahu, atau bahkan berkebun dan melakukan pengamatan burung di belakang rumah.
What’s the meaning of doing outdoor activity?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya mau membahas mengenai peran Ruang Terbuka Hijau alias RTH yang juga berfungsi sebagai salah satu tempat untuk bermain di luar ruangan ini.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Ruang Terbuka Hijau (green spaces) atau RTH merupakan sebuah ruang yang penting bagi setiap wilayah. Termasuk juga Jakarta, kota yang selama ini merangkap sebagai ibukota.
Berapakah Ruang Terbuka Hijau yang dimiliki kota dengan banyak mall besar, apartemen, dan gedung tinggi-tinggi ini?
Area hijau ini sangat terbatas jumlahnya di Ibukota. Ruang Terbuka Hijau yang ada di kota Jakarta seperti Taman Menteng, Taman Suropati, Hutan Kota Srengseng, Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Kota Kridaloka, dan Taman Margasatwa Ragunan. Dari RTH ideal yaitu 30 %, Jakarta hanya memiliki RTH sebanyak 9,8% saja. (Ady Kristanto, et al. 2011). Padahal keberadaan Ruang Terbuka Hijau dengan akses yang terbuka bagi semua warga sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat itu sendiri.
Suaka Margasatwa Muara Angke
Ruang Terbuka Hijau mempengaruhi kualitas hidup manusia sebagai tempat untuk beraktivitas, relaksasi, dan berinteraksi satu sama lain. Ruang Terbuka Hijau bisa menjadi sebuah sarana untuk bersosialisasi dengan masyarakat lain, mengadakan suatu kegiatan, dan juga berolahraga. Dengan adanya Ruang Terbuka Hijau juga membantu penyerapan air sehingga mencegah banjir yang ketika datang akan menimbulkan rentetan permasalahan lain seperti kemacetan yang semakin parah, dan munculnya penyakit.
Seperti dikatakan Tarsoen Waryono bahwa sebanyak apapun polder, rumah pompa, dan revitalisasi gorong-gorong dilakukan, selama penampuangan dan fasilitas pengalir air alami yaitu sungai, situ, waduk, serta Ruang Terbuka Hijau masih buruk, banjir akan tetap menjadi ancaman. (Kompas, 13 November 2011). Meski banjir kerap kali datang lagi dan lagi, tetapi sepertinya upaya untuk memulihkan Ruang Terbuka Hijau dan pengalir alami tersebut di Jakarta masih sangat jauh dari maksimal.
Ruang Terbuka Hijau yang ditumbuhi pepohonan dan ekosistem di dalamnya memberikan manfaat balik bagi penduduk kota, yaitu sebagai peredam kebisingan, mengenalkan alam, menghalangi radiasi sinar ultraviolet, serta menciptakan kualitas udara yang lebih baik bagi manusia.
Kualitas udara yang buruk selain berdampak pada kesehatan juga mengurangi keindahan dan proses ekosistem, serta mengurangi jarak pandang (visibilitas). Adanya Ruang Terbuka Hijau, seperti hutan kota, bisa membantu mengurangi polusi udara dan mengurangi penggunaan energi di suatu gedung. (Nowak, David J. et al. 2007).
Hutan-Kota UI
Peningkatan kendaraan bermotor yang juga secara otomatis menyumbang pada peningkatan polusi udara serta kemacetan menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia. Asap buangan kendaraan bermotor bisa menimbulkan penyakit saluran pernapasan, kemacetan yang panjang berakibat pula pada stress. Hal ini mengakibatkan tidak maksimalnya kegiatan yang dilakukan seseorang tersebut.
^^^^^^^^^^^^^^^^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar