Tampilkan postingan dengan label Info Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Menarik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Oktober 2013

Rainbow Warrior III : Kapal Ramah Lingkungan

9 Juni 2013, Rainbow Warrior III berkunjung ke Jakarta. Dalam kesempatan ini, Transformasi Hijau mendapat kesempatan untuk mengunjungi kapal legendaris Greenpeace tersebut di pelabuhan Tanjung Priok.

Untuk memasuki Rainbow Warrior, peserta harus antri karena membludaknya pengunjung. Banyak warga Jakarta yang penasaran untuk melihat wujud kapal yang telah mengarungi lautan dunia dalam melakukan kampanye penyelamatan lingkungan. Ini adalah kal pertama Rainbow Warrior berlabuh di Indonesia. Kapal yang berlabuh di Tanjung Priok ini merupakan generasi ke 3. Rainbow Warrior I tenggelam setelah di bom Prancis. Rainbow generasi II sudah dipensiunkan karena usia. Uniknya Rainbow Warrior generasi III adalah kapal pertama yang dibuat oleh Greenpeace. Kedua kapal sebelumnya merupakan sumbangan dari para donatur.

Rainbow Warrior III merupakan kapal yang menerapkan teknologi ramah lingkungan. Sekitar 80% energinya menggunakan tenaga angin. Sedangkan selebihnya ditenagai oleh mesin konvensional. Berada di atas kapal, pengunjung dijelaskan tentang detil bagian dalam Rainbow Warrior, mulai dari tempat kapten mengemudikan kapal, hingga anjungan helipad, tempat pendaratan helikopter. Ternyata konsep kapal ramah lingkungan yang disuguhkan oleh Greenpeace ini merupakan penyemangat bagi produsen kapal dunia untuk menciptakan kapal yang lebih canggih dan ramah lingkungan untuk bumi yang lestari. (Yusuf Aprianto _ TRASHI). 

Kamis, 22 Agustus 2013

Jejak Sampah Jakarta di Kepulauan Seribu

Ikan ini mengira sampah plastik adalah makanan 
Data jumlah timbulan sampah Jakarta menunjukkan bahwa dalam sehari kita menghasilkan sampah sebanyak 29.000 meter kubik. Dalam tempo dua hari saja, warga Jakarta bisa membangun Candi Borobudur dari sampah kotanya. Ini merupakan fakta yang tidak bisa kita pungkiri.

Timbulan sampah tersebut, sejatinya jika dapat dikelola dengan baik tentu tidak akan menimbulkan masalah di lingkungan. Fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Dari kegiatan Trash Buster pada 23 Juni 2013 lalu, peserta aksi bersih sampah di Suaka Margasatwa Muara Angke mampu mengumpulkan 1,46 ton sampah. Sampah yang sebagian besar merupakan sampah rumah tangga tersebut, terdiri dari plastik kemasan, styrofoam hingga kasur.

Sampah yang berada di SMMA masuk ke dalam kawasan melalui aliran Kali Angke yang berada tepat di samping kawasan. Pada jam-jam tertentu di pagi dan sore hari, saat warga membuang sampah, bisa kita lihat aliran sampah mengalir di permukaan Kali Angke. Jika kondisi air pasang, sebagian ada yang masuk ke dalam kawasan hutan mangrove. Sisanya, akan mengalir dengan bebasnya ke Teluk Jakarta.

Kali Angke adalah salah satu sungai dari 13 sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta. Sampai saat ini dipercayai, jumlah sampah yang masuk ke Teluk Jakarta mencapai 100 ton. Jumlah yang sangat banyak tentunya. Sampah tersebut sebagian besar merupakan sampah anorganik yang susah terurai oleh linkungan.

Sampah yang mengalir ke Teluk Jakarta tersebut akan memberikan dampak yang luar biasa pada kelestarian ekosistem laut Kepulauan Seribu. Sampai saat ini kita bisa menemukan jejak sampah Jakara sudah masuk hingga zona inti Taman Nasional Kepulauan Seribu. Sampah Jakarta tersebut sudah melintas sejauh 70 Kilometer. Bayangkan untuk pulau-pulau yang berada tidak jauh dari muara sungai di Jakarta, Bekasi dan Tangerang. Berapa banyak jumlah sampah yang terdampar di dasar lautnya, atau yang mengotori pantainya.

Dari hasil pengamatan bawah laut, sampah yang sebagian besar plastik tersebut banyak menyebabkan kerusakan ekosistem bawah air. Banyak lilitan sampah plastik di sekitaran terumbu karang. Jika terumbu karang rusak, maka bisa dipastikan jumlah ikan pasti menurun.

Sampah dan perilaku manusia ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi warga kota Jabodetabek. Kita harus mencari jalan keluar yang terbaik agar mahluk hidup lain tidak terancam dengan keberadaan sampah kita di lingkungan. Apakah rekam jejak sampah kita sudah bersih? Atau justru kita menjadi penyumbang sampah kemasan plastik yang merusak terumbu karang Kepulauan Seribu. (Hendra Aquan - TRASHI)

Selasa, 13 Agustus 2013

Kompetisi Photo Blog TRASHI

Foto Kompetisi Photo Blog Aku dan Taman Kota

Kompetisi Photo Blog Aku dan Taman Kota merupakan kegiatan yang digagas oleh Transformasi Hijau dan didukung oleh Social Front Page serta HiLo Green Ambassador. Kegiatan yang diselenggarakan sejak 29 Juli hingga 12 Agustus 2013 ini cukup diminati peserta. 

Kompetisi ini diadakan dalam rangka untuk menyebar luaskan semangat bertaman bagi warga kota Jakarat dan sekitarnya. Foto-foto yang diunggah peserta melalui situs socialfrontpage.com/trashi ini juga disertai dengan narasi singkat tentang taman kota yang ditampilkan dalam foto yang dilombakan.

Hingga perlombaan ini ditutup pada 12 Agustus lalu, tercatat ada 32 orang peserta yang sudah mengirimkan karyanya. Jumlah keseluruhan foto yang diterima oleh panitia sebanyak 35 buah. Foto yang diperlombakan tersebut mengambil sudut pandang yang beragam. Ada kegiatan piknik, bermain musik, olah raga hingga pre wedding.

Saat ini foto yang sudah masuk sedang dalam tahap penilaian oleh dewan juri. Juri kompetisi ini terdiri dari Henry Adam, Ady Kristanto dan Anastasia Merie. Para pemenang akan diumumkan pada tanggal 15 Agustus 2013.

Dari 35 foto yang sudah dikirimkan, panitia akan mengambil 7 orang pemenang. Penilaian tidak hanya berdasarkan pada keindahan foto saja, namun juga mempertimbangkan narasi yang disertakan sebagai penjelas foto.

Pemenang akan difasilitasi oleh TRASHI untuk mengikuti ecotrip ke Pulau Rambut. Pada ecotrip ini, peserta akan mendapatkan workshop fotografi dari para juri, pemanduan pengenalan Suaka Margasatwa Pulau Rambut, serta bonus menanam mangrove. Ecotrip yang rencananya akan dilakukan pada tanggal 17 Agustus, terpaksa diundur menjadi tanggal 31 Agustus. Pemunduran ini berhubung Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) belum bisa diterbitkan oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta hingga Senin, 19 Agustus. (Hendra Aquan - Transformasi Hijau)


Rabu, 07 Agustus 2013

Jakarta Bird Walk IV: Senayan rame!

Foto: Willi Ekariyono
Jakarta - Pengamatan burung rutin tiap awal bulan di ruang terbuka hijau (RTH) diadain lagi, ini kali keempat. Sabtu (3/8) Jakarta Bird Walk (JBW) edisi Agustus diadakan di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. Bedanya karena ini bulan ramadhan dimana mayoritas pengamat sedang berpuasa, maka pengamatan diadakan sore hari, ya hitung-hitung ngabuburit. Kumpul sejak pukul 15.00 WIB di parkiran masjid Al-Bina, seberang hotel atlet century. Satu per satu para pengamat dari berbagai komunitas berdatangan. Pukul 16.30 WIB pengamatan dimulai dengan membagi 28 orang pengamat menjadi dua tim besar. Rute pengamatan terbagi menjadi sayap sebelah kanan masjid Al-Bina dan sayap kiri masjid Al-Bina, di dalam kawasan GBKnya. Pukul 17.30 WIB semua pengamat berkumpul kembali di posisi awal, hanya bergeser sedikit tapi masih di sederet parkiran masjid.

Hasil spesies burung-burung yang berhasil diidentifikasi, yakni:
1. Betet Biasa (Psittacula alexandri) 
2. Burung Madu Sriganti (Cinnyris jugularis) 
3. Cabe Jawa (Dicaeum trochileum) 
4. Caladi Ulam (Dendrocopus macei) 
5. Cekakak Sungai (Todirhamphus chloris)
6. Cinenen Jawa (Orthotomus sepium) 
7. Cinenen Kelabu (Orthotomus ruficeps) 
8. Cipoh Kacat (Aegithina tiphia) 
9. Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) 
10. Burung Gereja Eurasia (Passer montanus) 
11. Kapinis Rumah (Apus affinis) 
12. Kepudang Kuduk-Hitam (Oriolus chinensis) 
13. Kerak Ungu (Acridotheres tristis) 
14. Kipasan Belang (Rhipidura javanica) 
15. Layang-layang Batu (Hirundo tahitica) 
16. Merpati Batu (Columba livia) 
17. Punai Gading (Treron vernans) 
18. Remetuk Laut (Gerygone sulphurea) 
19. Takur Ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala) 
20. Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis) 
21. Walet Linchi (Collocalia linchi) 
22. Walet Sarang Putih (Collocalia fuciphaga) 

Sebenarnya ada juga beberapa pengamat yang melihat dan mendengar suara kakatua, sayangnya karena tidak ada yang sempat melihat dengan sangat jelas, maka tidak dicantumkan sebagai spesies ke-23 yang teriden, belum ada yang dapat memastikan kakatua yang terbang lewat itu kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea) atau bukan. Dugaan, kakatua itu adalah lepasan karena ia hanya terbang sendiri. Dari hasil pengamatan, selain burung gereja eurasia (P. montanus)  tentunya, burung betet biasa (P. alexandri) mendominasi kawasan senayan. Suara betet biasa yang berisik itu sangat ramai berkumandang di langit GBK. 

Selain itu juga yang unik, ada banyak takur ungkut-ungkut (M. haemacephala) yang dengan mudah terlihat karena jumlahnya banyak dan sepertinya sudah terhabituasi dengan kawasan RTH tersebut yang tak pernah sepi sehingga mereka tak sensitif dengan pengamat yang memperhatikannya rebutan batang tengger, memberi makan anak, atau sekedar keluar-masuk sarangnya. Yang tidak biasa untuk saya pribadi adalah melihat begitu banyak kapinis rumah (A. affinis) yang semakin gelap langit karena matahari ingin berganti shift dengan sang bulan, semakin banyak gerombolan (flock) kapinis rumah berterbangan di atas langit tempat para pengamat bersiap berbuka puasa bersama di emperan areal GBK tersebut.

pose jungkir balik induk M. haemacephala menyuapi anak

Pengamatan diakhiri dengan foto bersama, all participants from Jakarta Bird's Society, Kakatua Indonesia, KPB Nycticorax UNJ, KPB Nectarinia UIN, KPP Tarsius UIN, Comata UI, Canopy UI, BBC UNAS, Bionic UNY, Haliaster UNDIP, Transformasi Hijau, Field Herping Indonesia, Jakarta Birder, dan Indonesia Wildlife Photographers. Kami ber-28 dan semoga bulan depan (7/9) di Hutan Kali Pesanggrahan akan terus bertambah jumlah pengamat yang berpartisipasi dalam JBW! see ya \o/

Penulis  : Desi Ayu Triana

Sabtu, 03 Agustus 2013

Global Tiger Day : Ibu Kota Mengaum

Hentikan perdagangan kaum kami! (Foto: Dedy Istanto)
Hari Senin (29/07/2013), dunia di gemparkan dengan auman anak manusia yang bersuara demi perlindungan kucing besar bercorak loreng. Ya! 29 Juli telah ditetapkan sebagai Hari Harimau Sedunia atau lebih dikenal dengan Global Tiger Day. Global Tiger Day ini dirayakan banyak orang di dunia tak terkecuali oleh masyarakat Indonesia, di Jakarta khususnya.

Bertempat di taman Monumen Nasional, diadakan kegiatan kampanye sebagai bentuk peringatan Global Tiger Day yang diinisiasi oleh Forum Harimau Kita dan didukung oleh banyak pihak. Dari mulai kawan-kawan mahasiswa, komunitas, fotogafer, pers, semua ikut merayakan dan mengaum bersama demi perlindungan harimau. Ada banyak hal yang dilakukan dalam momen ini, dari mulai melukis wajah dan menyulap diri menjadi harimau, membagikan material-material kampanye (news letter, pin dan stiker) kepada pengunjung taman Monas, kampanye berjalan dengan poster dan banner mengelilingi area taman Monas, dan ditutup dengan berbuka puasa bersama.

Harimau Sumatera, adalah satu-satunya harimau endemik yang dimiliki Indonesia. Popuasinya yang kian berkurang karena berbagai alasan membuat mamalia besar ini memiliki status terancam punah dalam kartu identitasnya. Salah satu penyebab turunnya grafik populasi harimau adalah perdagangan illegal yang ternyata sudah mulai memanfaatkan jaringan internet sebagai medianya. Untuk itu, kegiatan ini mengajak khalayak ramai untuk sama-sama menjadi pengawas perdagangan hewan liar yang dilindungi khususnya harimau. “Fight against tiger trafficking, report to us if you find tiger trade on internet!” merupakan rentetan huruf yang ditujukan kepada semua orang agar dapat berkontribusi dalam konservasi satwa eksotis ini.


“Jika dibandingkan dengan Global Tiger Day tahun lalu, yang tahun ini jauh lebih banyak orang yang terlibat dan meramaikan” kata Desi Ayu Triana atau akrab disapa Eci, salah satu relawan dalam kegiatan kampanye tersebut. Hal ini secara tidak langsung dapat menunjukan bahwa semakin banyak orang yang kini peduli dengan sang raja loreng yang kian memprihatinkan. Tentunya ini menjadi angin segar untuk para konservasionis.

Hanya Harimau Sumatera yang kini dimiliki Indonesia dan kini kondisinya sudah di ambang kepunahan. Tentu saja kita tidak mau nasibnya sama tragisnya dengan Harimau Jawa yang kini hanya tinggal nama. Untuk itu, mari menjadi pengawas bersama untuk melindungi para satwa terutama yang dilindungi seperti Harimau Sumatera. Karena sesungguhnya, mereka pun memiliki hak asasi sama seperti kita. (Nur Arinta - TRASHI)

Kamis, 11 Juli 2013

Ngabuburit Bareng TRASHI di AtAmerica Yuk!


Temans, selamat menjalankan ibadah puasa ya. Btw, tanggal 27 Juli kita ngabuburit bareng yuk. Bertempat di AtAmerica, TRASHI yang diwakili oleh Edy Sutrisno, beserta beberapa perwakilan dari lembaga lingkungan seperti WWF dan Green Peace serta Afiffa Mardhotillah None Jakarta 2012 dan Alanda Kariza Penulis dan Aktifis bakal menggelar diskusi menarik.

Diskusi yang akan dilakukan mulai pukul 15.00 hingga 17.00 WIB ini akan mengupas seputar kegiatan EkoWisata. Ada yang belum pernah dengar dengan salah satu bentuk wisata ini? Makanya, biar ga penasaran, kosongkan jadwal ya. Kita ngumpul bareng di AtAmerica. Yang pasti acara diskusi ini dijamin menarik, karena gratis dan ada WiFi gratis kalau mau pada ngetwit atau update status :) So.. be there ya! (Hendra Aquan - TRASHI)

Rabu, 10 Juli 2013

Lomba Menulis Artikel Mongabay : Liburan Hijau

Mongabay mengadakan lomba menulis artikel dgn tema Liburan Hijau. 
Berikut detail kompetisinya:

Tema: Liburan Hijau
 
Periode: 1 Juli - 31 Juli 2013
 
Syarat:
a.      tulisan harus original dan berbentuk feature dan dipost ke readersblog.mongabay.co.id dengan format judul #LiburanHijau (judul artikel)
b.    tulisan harus mengacu kepada informasi yang pernah ditulis di artikel mongabay.co.id (posting artikel yang diacu harus disertakan sebagai salah satu bahan rujukan/ pustaka di bawah artikel yang di buat).
c.     tulisan terbaik dilihat dari ide dan originalitas, inspiratif dan keunikan, serta kesesuaian dengan tema
d.     jumlah kata dalam tulisan adalah 1500-2000 kata.
e.     pemenang tulisan dibagi menjadi 3 tulisan terbaik* dan 1  pemenang favorit**.
f.      kompetisi ini terbuka untuk umum berusia 17-30 tahun.***
 
note:
(*) Tiga tulisan terbaik dipilih oleh dewan juri dari Mongabay Indonesia
(**) Pemenang favorit dipilih berdasarkan 5 artikel favorit pilihan juri mongabay Indonesia yg akan dipost di Fanpage FB Mongabay Indonesia. Satu dari Lima tulisan dengan LIKE terbanyak akan menjadi juara favorit.
(***) Pemenang harus dapat membuktikan diri dengan identitas berlaku/KTP/SIM/Paspor saat hadiah akan dikirimkan atau hadiah menjadi batal
 
Pengumuman Pemenang: 7 Agustus 2013
 
Hadiah:
Juara 1= Rp 2.000.000
Juara 2= Rp 1.250.000
Juara 3= Rp 750.000
Juara Fav= Rp 750.000

Rabu, 05 Juni 2013

Paket Bayi di Hari Lingkungan

Bayi Jambu Bol (Baby Tree Campaign)
Rabu (5/6) jam 09.00, di Hari Lingkungan, TRASHI mendapat kiriman paket bayi Jambu bol dari #100jutapohon. Paket bayi Jambu bol ini dikemas layaknya bayi manusia. Lengkap dengan selimut bayi dan disertai juga dengan keranjang anyaman. Penampakannya imut dan lucu mirip seperti bayi manusia. Hanya bedanya, bayi Jambu bol ini tidak menangis dan terdapat beberapa helai daun menghijau muda yang muncul dari balik balutan selimut bayi.

Pada paket unik ini, turut juga dikirimkan cara menanam dan merawat sang bayi. Jambu bol yang dikenal di dunia ilmiah sebagai Syzygium malaccense memiliki beragam manfaat. Pohon buah ini memiliki beberapa nama lokal seperti Jambu darsono, Jambu bol harman, Jambu dersono dan Jambu bol kapas. 

Penelitian yang dilakukan pada 100 gram Jambu bol terkandung energi sebesar 56 kilokalori, protein 0,6 gram, karbohidrat 14,2 gram, lemak 0,3 gram, kalsium 29 miligram, fosfor 16 miligram, dan zat besi 1 miligram. Tidak hanya itu, pada buah Jambu bol juga memiliki kandungan vitamin A  130 IU, vitamin B1 0,02 miligram dan vitamin C 22 miligram.  

Walaupun khasiat Jambu bol ini sangat banyak namun karena keterbatasan lahan, banyak jenis tanaman buah yang bermanfaat harus dikorbankan demi alasan pembangunan kota. Paling mudah, coba kita lihat ke halam rumah. Berapa banyak tanaman buah yang kita miliki? Berbagai alasan muncul, misalnya karena keterbatasan lahan, sehingga menyebabkan tidak adanya ruang untuk menanam tanaman lagi.

Melihat kondisi ini, muncul sebuah gerakan yang diinisiasi oleh CSR Pertamina. Gerakan yang dinamakan #100jutapohon tersebut, merupakan gerakan yang terintegrasi antara online dan offline sebagai bagian dari Gerakan 100 Juta Pohon. Sebagai komunitas lingkungan, TRASHI ikut terlibat aktif dalam menyebarkan semangat gerakan #100jutapohon. 

Dalam peringatan Hari Lingkungan 2013, Pertamina melakukan kampanye publik dengan mengirimkan bingkisan bibit pohon bertajuk "Baby Tree Campaign." Kampanye ini dilakukan dengan cara mengemas bibit pohon seperti layknya bayi manusia kepada para public figure / opinion leader di Jakarta secara serempak. 

Bagi teman-teman yang tergerak untuk mendukung gerakan ini, silahkan untuk melakukan tweet tentang lingkungan dengan tagar #100jutapohon. Setiap 2 tweet yang dikirimkan akan dikonversi menjadi 1 bibit pohon yang akan ditanam di beberapa lokasi yang sudah disiapkan. 

Mau bantu menyebarkan semangat ini? Mari kabarkan ke saudara, keluarga dan teman untuk peduli lingkungan, mulai dari jari kita. Selamat Hari Lingkungan, mari kita lakukan perubahan!  (Hendra Aquan - TRASHI)

Sumber informasi: 
Isi Kandungan Gizi Buah Jambu Bol - Komposisi Nutrisi Bahan Makanan (http://bit.ly/1b331Cd)




Selasa, 21 Mei 2013

Integrasi Otak Kiri dan Kanan di Future Leader Summit 2013

Puluhan anak muda Indonesia, dari berbagai kampus, berbagi cerita, pengalaman dan mimpi di Future Leader Summit (FLS) 2013. Acara yang digagas oleh Organisasi Kepemudaan Pemimpin Nusantara ini berlangsung meriah.  FLS berlangsung dari tanggal 18 - 19 Mei 2013 di Semarang.

FLS sebagai wadah berbagi dan berjejaring anak muda Indonesia ini sangat menarik. Berbagai isu yang tumbuh di masyarakat seperti lingkungan, pendidikan, kesehatan, hal asasi manusia, pengembangan bisnis serta seni budaya dibahas dan dikupas bersama para praktisi di bidangnya. 

Dalam kegiatan ini Hendra Aquan, Direktur TRASHI mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman ber komunitas di sesi Room Environment. Sesi yang berlangsung selama 90 menit ini mengajak para mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif menggunakan mind map.

Tahukah Anda, otak manusia merupakan bagian tubuh manusia yang paling berharga. Berbagai pengetahuan manusia bisa tercipta melalui pemberdayaan maksimal fungsi otak. Namun pada kehidupan nyata, fungsi otak tersebut belum dimanfaatkan secara penuh. Mind map adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengelola dan menampilkan ide dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami orang lain.

Pada sesi ini, Hendra mengajak peserta untuk menggunakan fungsi otak kiri dan kanan dengan bermain, mendengarkan musik dan menggambar simbol sederhana. Cara praktis tersebut dipakai untuk memicu kerjasama antara otak kiri yang berpikir logis dan tertata dengan otak kanan yang berpikir secara khayalan dan mencipta. Selain itu, peserta juga diajak mengumpulkan ide sebanyak mungkin dengan bermain imajinasi tentang pemanfaatan plastik kresek, sapu lidi dan serbuk kayu. 

Tahap selanjutnya, peserta diajak membuat mind map rencana kegiatan pasca FLS 2013. Dalam waktu 20 menit, 5 kelompok kerja di room environment ternyata mampu memaksimalkan potensi otak kiri dan kanan mereka. Terbukti dalam waktu singkat, berbagai gagasan dan rencana kegiatan dengan mudah mengalir dalam bentuk gambar berwarna yang menarik.

Ide para peserta ini cukup beragam, mulai dari pemanfaatan ilmu teknis untuk pengelolaan limbah kota, pendampingan para kelompok petani dalam pemanfaatan pestisida organik hingga pengembangan desa agrowisata. Proses belajar yang berlangsung singkat ini harapannya bisa menjadi pemacu semangat belajar mahasiswa untuk mengembangkan ide kegiatan dan berbagi ilmu melalui kegiatan praktis di masyarakat. (Hendra Aquan - Direktur TRASHI).







Rabu, 20 Februari 2013

Merajut Sabuk Hijau di Pesisir Utara Jawa (Bagian 1)


Hari mulai memanas , ketika aku sedang membersihkan toilet pria swimming pool tempat aku bekerja di salah satu hotel ternama di bilangan Jakarta Pusat. Itulah kegiatan keseharianku dalam mengisi waktu, bekerja mencari segelas susu untuk anak di rumah. Tiba -tiba HP ku bergertar keras sekali , ku lihat telpon dari Hendra Aquan dia mengajak untuk ikut ke Indramayu. Hati terasa senang namun galau yang kurasakan saat itu. Tentu senang bisa pergi, dan juga galau karena hanya bisa libur satu hari sedangkan ke Indramayu butuh waktu tiga hari. Aku coba beranikan diri untuk berbicara dengan manager untuk mendapatkan ijin pergi. Alhamdulillah akhirnya ijin tersebut ku dapatkan juga. Seketika rasa galau itupun berubah menjadi senang. 

-HARI PERTAMA-

Hari yang ditunggu tiba juga. Perjalanan menuju Indramayu menggunakan kereta dari stasiun Gambir. Sedikit was was dalam perjalanan, karena saat mau berangkat nyaris saja dua teman kami tertinggal. Sepertinya dewi Fortuna bersama mereka saat itu. Selama dalam perjalanan di kereta, saya mengisi kekosongan dengan bermain tarot. Teman-teman satu rombongan banyak yang "berkonsultasi nasib" denganku.

Sampai di Indramayu, banyak sekali orang yang memakai topi sama denganku. Sedikit malu dan tetap stay cool saja. Dari stasiun, kami menuju ke pantai Karangsong. tiba di lokasi, kami disambut angin pantai yang sejuk. Seandainya aku membawa layangan, lamunku. Kondisi saat itu anginnya pas banget buat main layangan. 

Dengan ditemani segelas kopi dan menikmati indahnya pantai Karangsong sambil menunggu acara dimulai. Sampai malam tiba belum ada tanda-tanda kehidupan panitia di sini. Ya sudah karena memang kami dari Jakarta ( Ilham, Sinta , Najib ,Tata) sudah biasa jadi tim hore, ya sudah kami meramaikan sedikit perkenalan di sana. Membuat Stand Up Comedy dan games sendiri hingga makan malam tiba. Menu makan malam yang disajikan saat itu ada ikan bakar, hasil panen nelayan sekitar pantai Karangsong. Sambal ikan bakarnya pedas banget sampai sekarang masih terasa jika dibayangkan. 

Setelah makan malam kami mulai berkenalan dengan semua peserta , ada yang dari Brebes, Indramayu dan kami mewakili Jakarta. Kegiatan malam itu diisi dengan diskusi dan pengenalan LSM SIKLUS, mulai dari sejarah dan bagaimana terbentuknya LSM tersebut. 

Saat istirahat malam, para peserta nge camp di pantai, sedangkan para pendamping tidur di hotel. Kami yang tinggal di camp tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, selalu saja digodain nyamuk binal di sini. Segala cara sudah dipakai, seperti lotion anti nyamuk, tapi tetap saja kami serangan nyamuk itu sungguh luar biasa. Hingga pagi tiba dengan muka ngantuk setengah tidur setengah bentol. (Bersambung bagian 2)







Selasa, 18 Desember 2012

Club Pathfinder Amati Burung Pulau Rambut

Mengamati burung langsung di alam

Pagi itu, 15 November 2012, jam menunjukkan pukul 07.00, saat Club Pathfinder dan TRASHI bersiap menuju Tanjung Pasir, Tangerang. Di lokasi tujuan, sudah menunggu kapal yang akan mengantar peserta mengarungi Teluk Jakarta menuju Pulau Rambut. Perjalanan ke Pulau Rambut ini dalam rangka memfasilitasi teman-teman dari Club Pathfinder untuk belajar lingkungan langsung di alam. Perjalanan Tanjung Pasir - Pulau Rambut ditempuh dalam waktu 30 menit. Cuaca hari itu sangat bersahabat sehingga kami bisa tiba di pulau tepat pada pukul 09.00. 

Tidak berapa lama kemudian, sesi belajarpun dimulai. Peserta yang berjumlah 18 orang ini terdiri dari siswa kelas 4 sampai kelas 9. Untuk memudahkan penyampaian materi, kelompok ini kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Di sesi awal, kakak dari TRASHI menceritakan sejarah Pulau Rambut. 

"Yuuk, teman-teman kita berkumpul. Selamat datang di Pulau Rambut. Pulau ini merupakan suaka margasatwa serta sekaligus surganya burung air dan burung migran" sambut Ilham Khoiri, fasilitator pendidikan lingkungan TRASHI. Pulau Rambut memiliki luas 90 hektar, yang terbagi antara daratan dan perairan, dengan luas masing-masing 45 hektar. "Pulau Rambut merupakan kawasan RAMSAR, yaitu wilayah perlindungan alam yang diakui secara Internasional" jelas Ilham. Pulau ini menjadi habitat burung air sekaligus tempat persinggahan burung-burung yang melakukan migrasi, ujarnya. Ilham menjelaskan, sebagai kawasan konservasi, ketentuan masuk Pulau Rambut, harus dilengkapi dengan surat izin yang dikeluarkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta. 

"Kegiatan kita hari ini dibantu oleh para penjaga pulau, kenalkan Pak Edi dan Pak Budi," terang Ilham saat memperkenalkan staf Polisi Kehutanan BKSDA yang akan menemani berkeliling pulau. "Teman-teman sudah siap mengamati burung?" tanyanya. "Siap kakak!" seru para peserta dengan semangat. 

"Kakak itu burung apa?" tanya seorang peserta sesaat memasuki pintu gerbang hutan Pulau Rambut. Para fasilitator kemudian mengajak peserta untuk membuat sketsa burung tersebut. "Kalian mau tahu nama burung itu? Buat dulu sketsanya di kertas, nanti kita bandingkan dengan gambar yang ada di buku kakak," jelas Ilham ke peserta. Ilham menambahkan, bahwa gambar sketsa yang dibuat tidak perlu mirip dengan aslinya. hal yang terpenting adalah mencantumkan keterangan yang jelas, seperti warna bulu, bentuk paruh dan hal-hal unik lainnya. Gambar sketsa yang dibuat ini kemudian dijadikan acuan pengenalan nama jenis burung dari buku daftar burung.

Presentasi hasil oleh peserta kegiatan 

Pengamatan burung tidak hanya dilakukan dari bawah saja. Kakak fasilitator juga mengajak para peserta untuk naik ke menara pengamatan. Dari atas menara ini, peserta dapat memandang luas ekosistem hutan mangrove yang hijau yang diselilingi warna putih di beberapa pucuknya. Warna putih tersebut merupakan warna bulu burung yang hinggap di pucuk-pucuk pohon mangrove. 

"Woooow !! kak keren dan besar besar banget ya burungnya," sahut seorang peserta dengan perasaan terkagum saat melihat seekor Cikalang christmans dan Elang laut perut putih melintas di dekat menara. Kesempatan itupun aku manfaatkan untuk menyisipkan pesan moral ke para peserta bahwa kita harus menjaga ekosistem hutan mangrove agar kelangsungan burung-burung tersebut tetap terjaga.

Club Pathfinder, peserta edukasi Pulau Rambut

Tidak terasa sudah 2 jam kami berada di hutan Pulau Rambut, saatnya kembali ke pos jaga untuk istirahat makan siang serta melanjutkan sesi presentasi dari setiap kelompok. Sebelum presentasi para peserta di minta untuk membuat laporan hasil pengamatan yang telah mereka lakukan tadi. Hasil presentasi dan laporan mereka cukup mengesankan. Dalam  tempo singkat, ternyata mereka sudah memahami kekayaan alam yang tersimpan di surga burung Pulau Rambut. Sesi presentasi selesai pukul 13.00, dan kamipun melakukan sesi foto bersama sebelum menuju ke perahu dan berlayar kembali ke Jakarta. (Ilham Khoiri -TRASHI)

Tentang Penulis:
Nama Ilham Khoiri biasa dipanggil Iam. Pria bertubuh tambun ini punya banyak mimpi dan cita-cita. Bergabung di Transformasi Hijau sebagai volunteer di awal tahun 2012 dan saat ini menjadi pengelola X-TRASHI, sebuah divisi wisata edukasi Transformasi Hijau. Teman-teman yang ingin belajar sambil berwisata di Kepulauan Seribu, silakan hubungi 085772181847 (iam) twitter: @iamkhoiri fb: ilham khoiri iam email: iamkhoiri@gmail.com  banyak keunikan yang akan terjadi di wisatamu yang tidak kamu temukan di tempat lain.

Sabtu, 08 Desember 2012

Anak-Anak Tokyo Lestarikan Jalak Bali


Ada yang pernah tahu Jalak bali? Burung ini merupakan satwa endemik Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Orang Bali menyebutnya sebagai si Jegeg. Kenampakannya hampir mirip dengan Jalak putih yang saat ini sedang disurvei oleh TRASHI bersama Oriental Bird Club. Kepala Balai TNBB, Bambang Darmadja, mengungkapkan bahwa populasi Jalak bali tinggal 180 ekor saja. Maka tidak heran jika satwa ini dinyatakan berstatus kritis oleh The International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dongeng dan uchiwa untuk galang donasi konservasi Jalak bali


Kritisnya status kelestarian Jalak bali ini membuat beberapa lembaga konservasi dari luar negeri ikut terlibat di dalamnya. Salah satu lembaga tersebut adalah i-inet, sebuah LSM konservasi dari Jepang. LSM Jepang tersebut melakukan program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan TNBB.

Saat saya bertandang ke TNBB dan bertemu dengan teman dari i-inet, mereka bercerita bahwa upaya kampanye penyelamatan Jalak bali juga dilakukan di Tokyo, Jepang untuk menggalang dana kegiatan konservasi yang dilakukan di TNBB. Wah ini merupakan hal yang luar biasa. Mengajak orang yang jauh dari habitat Jalak bali untuk ikut terlibat dalam kegiatan konservasi? Sepertinya ini hal yang tidak mungkin dilakukan.

Dari pengalaman yang mereka bagikan, ternyata cara yang dilakukan i-inet jauh dari kesan hebat dan keren untuk negara maju seukuran Jepang. Teman-teman i-inet melakukan penggalangan dana dan dukungan melalui dongeng untuk anak-anak dan berkreasi dengan "uchiwa" kipas Jepang. Beberapa saat saya mencoba mencerna dan menunggu kalimat lain yang lebih keren lagi. Ternyata tidak ada. Wow, ternyata sedemikian hebatnya dampak dongeng dan kreasi, sehingga bisa menggalang dukungan dana untuk konservasi Jalak bali yang hidup ribuan kilometer jauhnya dari Tokyo. 

Dongeng tersebut dilakukan dalam sebuah festival di Tokyo. Peralatan yang digunakan juga terhitung minimalis, yaitu berupa lembaran kertas berukuran A4 yang berisi gambar-gambar Jalak bali di habitat aslinya. Gambar tersebut juga dilengkapi dengan alasan mengapa Jalak bali perlu dilestarikan.

Usai dongeng, dilanjutkan dengan bekreasi dengan uchiwa. Bahan yang disiapkan adalah potongan-potongan gambar Jalak bali serta pepohonan tempat hidupnya. Anak-anak kemudian diminta untuk berkreasi dengan menggunting dan menempel serta mewarnai uchiwa dengan gambar yang sudah disediakan. Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan ini dikenakan donasi yang kemudian dikumpulkan untuk kemudian diserahkan ke masyarakat sekitar TNBB. Setelah itu, mereka diminta menuliskan pesan dan kesan mereka pada selembar kertas. Pesan dan kesan tersebut kemudian ditempelkan pada kertas yang berbentuk batang pohon.

Pesan yang bisa saya simak dari cerita teman Jepang ini adalah, cara mengajak orang  untuk peduli pada kegiatan konservasi tidak perlu rumit dan mahal. Selama informasi yang disampaikan menarik dan kreatif, pastilah menjadi media yang luar biasa pengaruhnya. Dongeng dan uchiwa bisa selamatkan Jalak bali lho? Ayo kita selamatkan Jalak putih, spesies endemik Jakarta dengan kreatifitas yang tidak kalah uniknya. Berani menerima tantangan ini? (Edy Sutrisno & Hendra Aquan - TRASHI)

Selasa, 17 Juli 2012

Jalak Putih: Burung Asli Jawa yang Terancam Punah

Jalak putih (Sturnus melanopterus)
Dalam sebuah Buku Panduan Lapangan Burung-burung Sumatera, Jawa dan Bali karya John Mackinnon dan kawan-kawan, terdapat ilustrasi burung yang mirip satu sama lain. Jenis yang dimaksud adalah Jalak putih (Sturnus melanopterus) dan Jalak bali (Leucopsar rothschildi). Kedua spesies ini memiliki warna bulu utama putih, meskipun terdapat kulit tanpa bulu di sekitar mata berwarna kuning berbeda dengan Jalak bali yang berwarna biru. Namun, keduanya memiliki kesamaan, yaitu merupakan burung yang sangat terancam punah serta dilindungi undang-undang. IUCN memberikan status Critical Endangered atau sangat terancam punah pada burung tersebut.
 
Dari pola hidupnya, Jalak putih hidup secara berpasangan atau dalam kelompok kecil yang mendiami hutan dataran rendah dan hutan monsun. Sebagai burung endemik, sebaran Jalak putih hanya ada di pulau Jawa (terutama Jawa Timur), Madura, Bali dan Nusa Penida, meskipun terkadang mengembara hingga ke Lombok. Di Jakarta kita masih bisa menemukan Jalak putih di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke. Diperkirakan populasi Jalak putih saat ini hanya berjumlah 4-6 individu.
 
Berdasarkan pengamatan, Jalak putih memiliki tiga ras, yakni ras Jawa dan Madura (Sturnus melanopterus melanopterus), ras pulau Bali (Sturnus melanopterus tertius), dan ras peralihan di ujung Jawa timur (Sturnus melanopterus tricolor). Pada ras Jawa dan Madura, Jalak putih memiliki punggung dan penutup sayap berwarna putih, sedangkan pada dua ras lainnya berwarna lebih kelabu.
 
Jalak putih dalam bahasa Inggris disebut Black-winged Starling merupakan burung dari suku Sturnidae. Burung yang umumnya berukuran  sedang (sekitar 20-25 cm), gagah, dengan paruh yang kuat, tajam dan lurus. Berkaki panjang sebanding dengan tubuhnya. Bersuara ribut, dan berceloteh keras, terkadang meniru suara burung lainnya. Di alam, burung ini kebanyakan bersarang di lubang-lubang pohon.dengan warna bulu seluruhnya putih, kecuali sayap dan ekor berwarna hitam.
 
Karena keindahannya, tidak mengherankan jika kemudian Jalak putih dinobatkan menjadi fauna identitas di dua kabupaten, yakni kabupaten Madiun (Jawa Timur) dan kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah). Sayangnya, keberadaan burung yang dilindungi ini semakin sulit ditemukan di alam liar.
 
Populasi Jalak putih sekarang di alam sangat memprihatinkan sekali. Hal ini dikarenakan tingginya perburuan untuk kemudian diperdagangkan. Diperkirakan harga jualnya dipasaran mencapai 1.5 – 3 juta rupiah sepasang.
 
Selain perburuan untuk perdagangan, berkurangnya habitat menjadi faktor pendukung penurunan populasi Jalak putih. Demi menjaga kelestariannya, perlu dilakukan upaya pelestarian, salah satunya dengan memasukkan spesies ini ke dalam daftar burung langka yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia melalui UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP No. 7 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Perlindungan dengan undang-undang ini merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menekan laju kepunahan Jalak putih.

Banyak upaya yang bisa dilakukan. Bagi yang awam sama sekali tentang kegiatan konservasi burung, mengenal jenis burung dan habitatnya dapat menjadi langkah awal untuk menyebarkan semangat konservasi ke masyarakat luas. Ketika setiap orang sudah mengetahui status kepunahan Jalak putih, maka upaya perlindungan tidak lagi hanya dilakukan oleh pemerintah ataupun kalangan pengamat burung saja. Tapi juga melibatkan masyarakat dengan jangkauan yang lebih luas.

Selasa, 26 Juni 2012

Workshop Keranjang dari Kertas Koran

Ajakan untuk Tim CreaTRASHIty membuat sebuah workshop kerajian tangan menggunakan bahan bekas/ daur ulang datang dari Mba Salma, dari Komunitas RumahPohon Activity. RumahPohon Activity mendapat tempat untuk membuka booth skaligus menggelar serangkaian workshop di Hari Sabtu dan Minggu, selama Bulan Juni - Juli di acara Urban Mom & Kiddy, Central Park Lantai 1.

Dan tanggal 23, Tim CreaTRASHIty menggelar workshop keranjang dari kertas koran di Mall ini :)
Setelah teman-teman Young Transformers datang, workshop dimulai. Kali ini mencoba berkreasi dengan alas keranjang yang beda. Apakah hasilnya akan sama? Ternyata tidak, ada yang membuat keranjang berbentuk vas bunga, ada yang persegi dan bundar. Hmm... satu metode, bisa menghasilkan banyak kreasi, ya...

Oh iya, Ini pertemuan kedua dengan teman Young Transformers, semenjak dari Taman Ayodya. Mereka juga membawa keranjang koran yang memang sudah dibuat (ceritanya di sini), untuk di beri pewarna alam. Sorenya, kita mulai mewarnai keranjang koran. Dari rumah saya memang sudah menyiapkan pewarna dari kunyit (kuning dan oranye) dan teh. Jangan lupa memakai sarung tangan karet ketika mulai mewarnai, karena kunyit cukup sulit dibersihkan jika sudah mengenai jari.

Tak terasa, hari sudah mendekati maghrib. Dan kelas kreasi pun ditutup bersamaan dengan booth RPA. Sayangnya, saat selesai masih ada peserta yang belum menyelesaikan keranjangnya. Jadi mereka membawa pulang anyaman dan beberapa gulungan koran. 

suasana workshop
Sambil menunggu teman-teman yang sedang sholat, Saya dan Ulfah berjalan ke taman Central Park. Ternyata sedang ada acara.... Sekalian saja kami foto2, sambil melepaskan penat aktivitas hari ini...
Makasih buat RPA dan YT

Kamis, 21 Juni 2012

Ceritaku, 09-10 juni 2012


Sebelum aku dan teman-teman young transfomers dan kakak-kakak trashi  mengisi stand komunitas dari acara ASTRA. Kami semua mengadakan prepare di Taman Ayodya. Yang kebetulan hadir di sana ada Aku, Dewi, Ucup, Kak Hendra, dan Kak Ady. Awal rencana bertemu itu jam 10, tapi biasalah jam karet dan jam berkumpul kami pun jadi sekitar jam 1 siang. Dan Aku bersama Dewi menjadi korban menunggu yang lain dengan cuaca yang terus turun hujan.

Setelah semua berkumpul, kamipun mulai membiacarakan apa yang akan di lakukan di kegiatan ASTRA juga orang-orang yang kemungkinan bisa hadir dalam acara tersebut. Alat dan bahan untuk workshop kreasi bersama kak wilda dan peralatan birdwacthing juga menjadi perbincangan kami yang hadir di Ayodya.
Setelah semua yang di bicarakan selesai, Kak Hendra dan Kak Ady bilang, “ sukses buat acaranya, karena kita tiak bisa ikutan “. 
What !!!, Aku bingung banget pas kakak-kakaknya bilang TIDAK BISA IKUT ACARA. "Terus kita di sana gimana??? Ya ada yang lain tentunya, tapi Aku belum terlalu mengenal mereka."


Tiba acara kegiatan tanggal 09 di monas yang di adakan oleh ASTRA. Aku, Ari, dan kembarannya Ira berangkat menuju monas sekitar jam 10, karena katanya acara di mulai jam 1 siang. Dan kami pun sampai di sana jam stgh 1, dan ternyata acara itu resmi di buka jam 3 sore. Ya, aku bersama teman-teman yang hadir duluan mempersiapkan stand untuk dapat di kunjungi. Dan sekitar jam 2 siang, Dewi menyusul datang dengan peralatan yang dibawanya. Di stand TRASHI yang hadir ada Kak Ilham, ia bagian untuk menjelaskan kegiatan TRASHI yang terbaru yaitu X-TRASHI. Kegiatan itu adalah wisata alam mengenai tanaman bakau, wisata ciliwung dan lainnya. Kamipun disana juga mempromosikan kepada pengujung sekitar  bahwa, sekitar jam 4 sore akan mengadakan birdwatching di sekitar area monas. Dengan Kak Agnes dan kawan-kawan yang hadir juga di sana.

Acarapun di buka dengan pelepasan burung merpati bersama-sama. Respon untuk di stand TRASHI cukup bagus, dan banyak juga yang ingin mencoba birdwatching. Tapi pas tiba saatnya, ternyata pengunjung yang ingin birdwatching tidak datang ke stand TRASHI akhirnya, birdwatching-pun tidak terlaksana dan terlihat cuaca kurang mendukung juga untuk birdwatching. Banyak di antara pengunjung yang ingin mencoba program X-TRASHI. Dan kami senang dengan terisinya absen pengunjung yang cukup banyak. Karena itu sangat membantu dalam kami mengajak mereka bersama dalam kegiatan di ruang terbuka hijau bersama TRASHI.


Untuk acara esok pagi, kami berniat untuk kembali birdwatching pada pagi hari dan kreasi tutup botol siang hari bersama Kak Wilda. Acarapun selesai sekitar jam 7 malam dan sebelum aku pulang, tadi sempat mencoba permainan enggrang yang cukup menguras tenaga saya. Karena susah memainkannya, saya belum terbiasa hehehehe. Acarapun selesai dan kami pulang bersama-sama, namun untuk hari kedua saya hanya hadir sendiri. Karena teman-temanku yang lain tidak dapat hadir.

Di hari kedua tanggal 10 juni 2012, saya datang sendiri  dan harus tiba di monas pagi hari. Sayapun tiba sekitar pukul setengah 8. Dan saat sampai di sana, ternyata sudah pada dateng ada Kak Ilham, Kak Agnes, dkk. Di tambah sama Kak Iting. Untuk di hari kedua ini pengunjung lebih ramai di bandingkan hari kemarin. Dan kegiatan birdwatching jadi dilakukan pagi hari namun, kegiatan ini hanya di lakukan di sekitar stand area TRASHI, tapi meski begitu banyak juga yang antusias mencoba birdwatching. Sekitar pukul 9, Kak Wilda hadir dan langsung membuka kelas kreasi.

Untuk kelas kreasi ini cukup mendapat respon yang baik, kelas kreasi ini di buka untuk umum. Pas di buka pertama banyak ibu2 yang mencoba kreasi ini untuk di ajarkan kpada sang anak di rumah. Dan pas udah siangnya banyak anak2 yang mencoba. Kreasi yang kami buat di sini menggunakan tutup botol bekas yang kami jadikan semacam gantungan kunci, handphone, pin, magnet dan lainnya yang unik meski hanya dari barang yang awalnya kita anggap gak berguna.


Acara ini pun di akhiri dengan penampilan Bondan and Fade2black yang sangat semangat. Setelah zuhur acara ini resmi di tutup. Dan dari acara ini, kami cukup mendapat respon yang baik mengenai kegiatan yang kami lakukan berkaitan dengan ruang terbuka hijau. Semoga apa yang telah kami lakukan dapat berguna untuk semua dan sebarkan virus untuk menjaga lingkungan selalu kepada generasi muda berikutnya.
*****
ditulis oleh Ulfah Wulandari di https://www.facebook.com/notes/ulfah-wulandari/09-10-juni-2012/10151047256396468