Jumat, 03 Februari 2012

Berwisata Sambil Lestarikan Lingkungan


Wisata saat Nimbrung di Ciliwung Condet (Foto: Ady Kristanto)



Kalau bicara tentang lahan basah khususnya Jakarta, yang terlintas tidak jauh dari kotor, sampah, hitam, banjir dan sejenisnya.  Intinya adalah segala hal yang berkaitan dengan kekumuhan.  Tapi bagaimana jika kekumuhan di antara tempat kumuh tersebut dijadikan tempat berwisata?  Jika pernah ada yang tahu, ternyata tempat kumuh dapat dijadikan tempat wisata, bahkan ada juga orang atau lembaga yang memiliki paket wisata kemiskinan (baca kekumuhan) terutama bagi orang asing.  Meskipun tersebut menjadi hal yang kontroversial, tapi ternyata hal tersebut merupakan hal yang nyata-nyata ada.

Tahun ini peringatan hari lahan basah sedunia mengangkat hubungan antara lahan basah dengan wisata.  Tentu saja yang diharapkan adalah wisata yang bertanggungjawab, wisata yang tidak hanya mengambil dari alam (pemandangan, kesejukan, keindahan) tapi juga keterlibatan dalam menjaganya, lebih dikenal dengan ekoturisme (Wisata Ramah Lingkungan). Tidak sedikit wisatawan yang banyak meninggalkan jejak yang merugikan alam, bahkan di kalangan yang jelas-jelas menyebut dirinya pecinta alam dengan membuang sampah sembarangan atau vandalisme.

Contoh menarik yang dapat diangkat mengenai hubungan daerah kumuh dengan wisata adalah  komunitas sungai Code di Jogjakarta.  Bagaimana mereka menyulap kondisi daerah pemukiman kumuh menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Meskipun mendapatkan dukungan dari pihak lain, namun tentu saja tanpa keinginan yang kuat dari komunitas itu sendiri untuk berubah tidak akan terwujud.

Beberapa waktu yang lalu, beberapa pemerhati sungai Ciliwung mencanangkan tahun kunjungan ke Ciliwung. Pencanangan ini merupakan inisiasi yang kreatif dalam mempublikasikan pelestarian kawasan Ciliwung, meskipun perlu dikaji lagi mengenai hasil dan efektivitas kampanye pelestarian Ciliwung. 

Sungai Ciliwung, khususnya yang membelah Jakarta memiliki tempat-tempat yang menarik untuk dijadikan wisata. Dibutuhkan pengelolaan yang inovatif  untuk memanfaatkan karakteristik masing-masing potensi yang dimiliki.  Wisata menjadi alternatif menarik agar orang mau memelihara lingkungannya dan mengundang kepedulian pihak lain dalam berpartisipasi. Selamat memperingati hari lahan basah dan mari kita berwisata di lahan basah sekitar kita. (Edy Sutrisno - Transformasi Hijau) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar